Antara Langit dan Bumi- Elvina Ichigo
- RANI LARASSATI
- Apr 16, 2024
- 8 min read
Anak kecil itu menatap ke atas pohon yang rindang. Cahaya matahari menyelinap melalui sela-sela dedaunan yang lebat, mengenai sebagian dari tubuh kecilnya. Angin sepoi-sepoi mengibas lembut rambut coklat yang sebahu.
Mata polos gadis tersebut berbinar melihat daun yang melambai dengan lambat. Terasa ketenangan menyeruak pada dadanya. Setidaknya, ia ingin menikmati ketenangan meski hanya sejenak.
Sayang ketenangan miliknya tak berlama – suara semak terdengar sehingga gadis itu terkejut, mencoba bersembunyi dibalik batang pohon yang tebal. Semak bergerak-gerak yang kemudian mulai menampakkan sosok seorang bocah berambut pirang, parasnya tidak seperti pribumi semestinya. Netra birunya bertemu dengan netra coklat milik gadis itu.
Tak lama setelah beradu pandang, bocah londo itu membuka suara – menggunakan bahasa yang tak dimengerti gadis pribumi itu sehingga ia hanya terdiam. Gadis itu menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti maksud dari bocah itu. Wajah lawan bicaranya kemudian dihias senyuman manis, lalu ia berkata kembali dengan bahasa yang lebih sederhana.
“Ik naam, Liam, William Sanders. Je?” Ujar bocah berkulit pucat yang kini kian memerah karena panas matahari sembari menunjukkan telunjuk pada dirinya. Si pribumi kemudian mengerti bahwa londo itu sedang memperkenalkan dirinya.
“Naam…nama? Nama saya Santih.” Senyuman merekah pada wajah keduanya. William berinisiatif menjabat tangan Santih, kemudian disambut ramah olehnya.
“Sa..lam..ken..al!” Seru William patah-patah.
“Salam kenal, William.”
=====
Pertemuan keduanya bermula disana, kemudian mereka-pun semakin sering duduk bersama dibawah pohon rindang itu. Awalnya mereka cuma duduk diam sambil menatap langit, lama-kelamaan mereka saling mempelajari bahasa satu sama lain.
Hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun, tahun menjadi dekade. Kini mereka telah menjadi remaja sepenuhnya. Bohong jika mereka tidak mengakui bahwa tunas cinta telah tumbuh diantara keduanya. Namun ingin jujur-pun tak sanggup. Bagaimana tidak? Jarang sekali ada seorang londo yang dibiarkan menikahi pribumi. Hal yang sangat tabu.
Awalnya, orang tua William tidak mencari tahu siapa yang menemani anaknya setiap hari seusai sekolah. Mereka pikir ia sedang bersosialisasi dengan kaum sesamanya. Lama-kelamaan rumor mulai bertimbulan, menyebabkan kecurigaan keduanya. Tak jarang sang ibu meminta anaknya memperkenalkan teman diluar sekolahnya. Sang ayah, tidak mau kalah juga menawarkan diri mengantar anaknya menemui teman misteriusnya itu. Namun William menolak perintah dan tawaran orang tuanya, sehingga semakin tersulut prasangka mereka.
“Santih, orang tuaku ingin menemui-mu,” Warna wajah lelaki londo itu berubah serius pada suatu hari. Kecemasan gadis pribumi dihadapannya mekar, ia menggeleng keras.
“Tidak bisa, Will. Aku tidak yakin orang tua anda akan menerima-ku.”
“Kita tidak akan pernah tahu, kan? Setidaknya kita harus mencoba terlebih dahulu.” William mencoba meyakinkan Santih, tapi ia tetap menggeleng.
“Maaf, William. Jawaban-ku tetap tidak,” Kepala si lelaki itu menunduk. Kemudian tak lama ia kembali menatap Santih dengan mata berbinar.
“Bagaimana kalau kau kerja di rumahku? Kau selama ini selalu mengoceh bahwa tuan rumahmu tidak menghargaimu. Berbeda dengan orang tuaku, mereka ramah dengan para pelayan,” Santih terdiam mendengar perkataan si pirang yang kini telah meraih tangannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Santih menyadari banyak sekali perbedaan antar dirinya dan sosok londo didepannya – kulit yang kecoklatan berbalik dengan kulit pucat milik William, wajah kusam yang benar-benar kontras dengan wajah tampannya, dan tentunya ia bukan sandingan bagi lelaki yang memiliki sedikit darah bangsawan ini.
“Aku butuh waktu mempertimbangkan…” William dengan segera memeluk Santih tanpa berfikir panjang. Baginya yang sudah terlalu mengenal Santih – ketika si gadis sudah berkata seperti itu – berarti sudah pasti ia akan setuju juga akhirnya.
“Baiklah, aku akan menunggu.” Setelah itu, mereka-pun berbincang mengenai hari seperti biasa. Hingga tiba waktunya bagi si perempuan untuk kembali ke rumah ‘tuan’nya.
Tepat ketika Santih memasuki ruangan, ia disambut dengan piring yang dilempar ke arahnya — untung sekali tidak mengenai kepalanya — kemudian disusul dengan pekikan sang majikan.
"Gundik tidak tahu malu! Kemana saja?" Ujar wanita londo berumur 20 itu.
“Maaf, nona-”
“Kowe cepat siapkan air mandi-ku!” Pinta sang majikan dengan patah-patah – terdengar belum fasih berbahasa – lantas Santih segera menunduk.
“Maaf-”
“God, vertrek nu onmiddellijk!” Usirnya menggunakan bahasa Belanda. Pekikan noni itu cukup membuat Santih terkejut kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandinya.
Sayup-sayup terdengar omelan berbahasa Belanda yang dapat Santih mengerti sedikit – berkat ajaran dari William – setidaknya ia mengerti bahwa kekesalan majikannya mungkin akan menyebabkan Santih dijual kembali suatu hari nanti.
Santih menghela nafas diam-diam. Mungkin tawaran William tidak buruk juga, pikirnya.
=====
Esokan harinya, mata William berbinar mengetahui bahwa Santih menerima usulannya. Ia melompat-lompat dan memeluk tubuh rapuh pribumi didepannya.
“Dank God! Terima kasih, Santih! Aku akan membeli kamu besok hari.” Wajah William dihias senyuman yang begitu besar – bahkan telah menutupi setengah wajahnya.
“Maaf telah merepotkan Anda,” Santih membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
“Tidak repot, Santih. Ini karena aku menyayangimu,” Cukup mengejutkan William mengatakan kalimat tersebut dengan begitu mudah. Mungkin baginya hal tersebut wajar bagi sesama teman, namun bagi Santih yang tidak mendapat kasih sayang, itu segalanya.
“Terima kasih, Will,” Santih tersenyum ramah pada William.
Tidak butuh waktu lama bagi William untuk berlari kembali ke rumahnya dan meminta orang tuanya untuk membeli seorang pelayan – yang dengan mudah disetujui kedua belah pihak. Mereka segera menemui ‘mantan’ majikan dari Santih esoknya kemudian berhasil membawa Santih pulang.
Tak disangka, keluarga Sanders cukup ramah padanya. Tatapan yang hangat dengan cepat menyentuh hati Santih, senyuman tulus yang menyihir batinnya.
“Santih, ini kamarmu, semoga kamu nyaman. Kalau ada apa-apa, beritahu saja.” Ibunda William tersenyum lembut, mempersilahkan Santih menempati kamar loteng. Pandangan Santih menyapu ruangan, meneliti ruang kecil yang akan ia tinggali sementara waktu. Meski tidak terlalu luas, namun kamar tersebut terasa nyaman karena bersih. Jendela disamping kasur-pun menyedia-kan pencahayaan yang cukup bagi Santih.
“Terima kasih banyak, Nyonya Sanders,” Santih segera membungkuk setelah meletakkan koper bututnya.
“Tidak masalah, Santih. Silahkan beristirahat, besok baru mulai bekerja ya?” Nyonya Sanders-pun meninggalkan ruangan setelah mendapat anggukan dari Santih.
Wanita pribumi itu dengan segera merebahkan tubuhnya pada kasur yang hanya cukup untuk seorang itu. Ia menatap ke langit-langit loteng yang sedikit miring, kemudian lanjut menatap keluar jendela. Rumah keluarga Sanders lebih besar sedikit dibanding mantan majikannya, banyak tumbuhan diluar rumah dengan pembantu yang tak kalah banyaknya. Perlahan, Santih menutup matanya – suara yang ditimbulkan alam menenangkan hatinya – ia-pun terlelap.
=====
Tak disangka sudah berbulan-bulan Santih bekerja untuk keluarga Sanders. Ia begitu disayang sampai-sampai ia merasa seperti seorang anak angkat.
Sempat sekali ia dipergoki sedang berbincang-bincang dengan William, namun Nyonya Sanders hanya tersenyum seperti biasa. Sedikit membingungkan, namun Santih lumayan ketakutan saat itu.
“Santih, mau kah kamu minum tea dengan Nyonyamu ini?” Ujar nyonya paruh baya itu pada suatu sore.
“Baik, Nyonya,” Santih menurut dengan perkataan londo berambut coklat itu dan mengikutinya menuju taman.
Mereka duduk berhadapan dan menunggu pelayan-pelayan lain menyuguhkan berbagai kue dan makanan manis serta teh melati yang beraroma manis – mungkin karena campuran madu.
Wanita dewasa di hadapannya menyeruput perlahan teh yang hangat. Menghirup aromanya dalam-dalam. Kedua orang itu menikmati keheningan sembari menatap ke arah taman rumah Sanders yang luas.
Santih menikmati berbagai macam makanan manis yang dihidangkan sebelumnya. Ia mencobanya satu-per-satu, tidak pernah seumur hidupnya ia memakan camilan seenak ini. Majikannya terkekeh melihat betapa bersinar kedua mata Santih. Ia membiarkan pribumi didepannya makan untuk beberapa saat hingga akhirnya ia berdeham pelan – menyita perhatian pelayan kesayangannya itu.
“Aku akan menjodohkan William.” Hampir saja Santih tersedak mendengar kalimat majikannya. Nyonya Sanders menahan tawa, bukan ingin mengejek, namun baginya reaksi Santih sangat polos.
“Aku tau kau menyukainya, kalau kau tidak bisa merelakan. Lebih baik beritahu William, biar dia yang memilih.” Lanjut Nyonya Sanders, segera Santih meletakkan kembali cangkir teh ditangannya.
“Saya tidak berhak, Nyonya,” Ia membungkuk sopan.
“Aku tidak keberatan.”
“…Saya tahu, namun…ini soal harga diri keluarga Sanders, Nyonya.”
“Aku tidak peduli.” Mendengar ketidak-acuhan sang majikan, Santih hanya terdiam.
Keheningan menyelimuti atmosfir taman untuk sebentar, hingga akhirnya Nyonya Sanders kembali berkata.
“Keputusan ini akan aku beri padamu. Apa-pun itu, kuharap kau tidak akan menyesal kedepannya.” Kalimat tersebut menjadi penutup ‘acara minum teh’ mereka. Kalimat itu pula yang membuat Santih tidak tidur dengan nyenyak malam itu.
=====
“Ku dengar-dengar kau berbicara dengan Mama?” Semprot William tanpa basa basi, kebetulan Santih sedang berada diruangan yang sama saat ia menyantap makan siang.
“Benar, tuan muda William. Nyonya meminta saya untuk menemaninya minum teh,” Tiba-tiba William memegangi dadanya seperti kesakitan.
“Tuan muda?!”
“Ah, sedih sekali hatiku. Kau tidak menganggapku teman lagi!” William mengeluh dengan dramatis. Santih tertawa, William memang selalu banyak drama semenjak pertama mereka bertemu.
“Bukan seperti itu. Namun kau sudah menjadi majikanku, aku tidak bisa sembarangan.” Santih memutar bola matanya melihat betapa heboh temannya itu.
“Hahahah, tapi serius. Apa yang kalian bicarakan? Soal perjodohanku?” Seketika suasana ruang makan menjadi dingin.
“…Iya.”
“Yah…begitulah. Padahal aku tidak terlalu ingin dijodohkan,” William meletakkan alat makannya.
“Mengapa begitu?”
“Aku, kan, sudah menyayangimu,” Kini giliran Santih yang membeku ditempat.
“Terima kasih, tuan muda, saya juga peduli akan keselamatan tuan-”
“Bukan. Aku menaruh perasaan padamu. Aku menyukaimu.” William segera memotong kalimat Santih.
“Kita berdua mengerti itu adalah hal yang mustahil-”
“Tidak mustahil, kau yang ontkenning.”
“Aku tidak menyangkal, itu kebenaran. Bagaimana dengan pandangan terhadap keluarga-”
“Mama sudah bilang kalau dia tidak peduli, kan? Papa juga menyetujui. Apalagi aku, aku tidak masalah.”
Santih terdiam. Ia menyadari setiap ia berada didekat William, ia berharap waktu berjalan lebih lama. Setiap sentuhan kecil yang diberi William selalu membuat perutnya terasa geli. Ia sadar bagaimana perasaannya selama ini. Akan tetapi ia terlalu takut untuk mencari tahu lebih mengenai rasa yang timbul tanpa disuruh.
Tanpa mengatakan apa-apa, Santih membalikkan badan dan meninggalkan ruangan.
=====
Pintu loteng tertutup tepat setelah Santih masuk. Ia terduduk di kasur, merenungi perkataan William. Tidak pernah seumur hidupnya ia mendengar seorang londo jatuh cinta pada pribumi. Begitu-pula bagaimana keluarga si londo menerima pribumi itu. Belum lagi si londo ini bukan orang sembarang! Santih mendesah dengan resah, memegangi kedua kepalanya. Tak lama, ketukan terdengar.
“Masuk!” Pintu terbuka, menampakkan siluet wanita paruh baya londo – Nyonya Sanders.
“Maaf Nyonya, biar saya rapi kan terlebih dahulu kamarnya.”
“Tidak perlu, Santih.” Nyonya londo tersebut duduk di kasur, kemudian menepuk posisi sebelahnya supaya Santih kembali duduk.
“Kau… ‘berdebat’ dengan William?” Santih terkejut mendengar kalimat majikannya.
“Saya tidak berani berdebat dengan Tuan muda, Nyonya,” Nyonya Sanders tertawa lepas.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti betapa keras kepalanya William.” Santih menatap dengan heran.
“Sebenarnya, semenjak pertama William memaksaku untuk membelimu, aku sudah tahu dia menaruh perasaan kepadamu.” Wanita londo itu berhenti sejenak.
“Jarang sekali anak nakal itu ingin membeli seorang..maaf..gundik.
“Kecurigaanku dikonfirmasi saat aku melihat kalian bercanda dengan begitu dekat di lorong, dan aku berfikir ‘Oh, ini teman rahasia anakku.’ Ternyata dia menghilang setiap sore untuk mencarimu.” Nyonya itu terkekeh, Santih mendengarkan dengan saksama tanpa mencela ucapan Nyonya Sanders sedikit-pun.
“Aku mengawasimu diam-diam. Menyelidiki apakah kau orang yang tepat? Maklum, naluri seorang ibu.
“Awalnya, hati kecilku tidak setuju. Namun melihat betapa giat dan baik hatinya dirimu, aku luluh juga. Aku jadi mengerti kenapa William jatuh cinta padamu. Maka perbedaan ras bukanlah lagi suatu masalah bagi diriku. Masalahnya adalah bagaimana cara supaya William bisa bahagia.
“Kalau boleh jujur, ucapan menjodohkan William hanyalah gertakan untuk dirimu supaya cepat menyadari perasaanmu padanya. Tak kusangka ternyata membuatmu semakin bimbang, aku minta maaf,” Nyonya Sanders membungkukkan badan sedikit.
“Aku dan William akan selalu menemanimu disetiap permasalahan, termasuk pandangan orang luar. Kau tahu? Sebenarnya nenek William pribumi.” Nyonya Sanders menyengir sembari mengatakan kalimat terakhir itu.
“Tidak perlu khawatir, nak. Aku merestuimu sepenuhnya. Kau juga sudah mendapatkan restu dari Ayah William – dia terlalu sibuk, soal rumah dan William selalu ia dorong kepadaku.” Nyonya Sanders kembali terkekeh.
“Tidak perlu bimbang lagi ya?” Majikan londo-nya itu memeluk Santih hangat, begitu hangat sehingga tanpa disadari kedua mata Santih meneteskan air mata.
“Maaf, Nyonya. Saya begitu merepotkan…” Ujar Santih akhirnya membuka mulut.
“Tidak merepotkan, aku senang William jatuh hati pada orang sepolos dan setulus kau.” Tangan Nyonya Sanders mengelus lembut kepala Santih.
“Temui-lah William, dia ada di taman,” Santih mengangguk, kemudian dengan segera berlari keluar kamar dan bergegas pergi ke taman.
Begitu tergesa-gesa dirinya hingga nafasnya memburu, larinya barulah terhenti ketika ia melihat sosok londo berambut pirang. Santih berjalan pelan menghampiri orang itu. Teman londo pertama dan terakhirnya. Pria bersurai pirang dan bernetra biru. Pria yang menggenggam tangannya dengan hati-hati. Seorang yang peduli dan rela mengajarkan segala yang ia bisa untuk Santih. William, yang berhasil membuka pintu hati Santih yang tertutup karena penderitaannya selama ini.
“Will…”
Pria itu membalikkan badan.
“Maaf…” ujar Santih sembari berusaha menenangkan nafasnya yang memburu.
“Begitu ya..? Ternyata perasaanku tidak diterima-”
“Bukan seperti itu!” Pertama kalinya Santih memotong ucapan William.
“Maaf, karena selama ini aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku. Maaf karena aku terlalu takut pandangan orang lain sehingga aku berusaha menjauh dari kasih sayangmu. Maaf karena aku jatuh hati padamu.” Santih membungkukkan tubuh dalam-dalam.
“Aku…menyukaimu, Will. Perasaan itu tidak pernah berubah semenjak pertama kali aku mengenalmu. Aku selalu menyukaimu. Maka dari itu aku tidak ingin merelakanmu dijodohkan dengan orang lain!” Seru Santih. Baru saja ia menegakkan tubuh, ia disambut dengan pelukan hangat.
“Terima kasih, Santih. Aku senang sekali. Aku sangat bahagia. Kau membuatku sangat bahagia,” William melepaskan pelukan, kemudian berlutut didepan Santih. Ia merogoh saku-nya, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dengan bahan beludru. Kalimat berikutnya berhasil membuat siapa-pun yang mendengar tersenyum bagai orang bodoh;
“Santih, maukah kau membuatku pria yang paling bahagia di dunia ini untuk selamanya?”
~End~
Comments