top of page

1000 Candi Untukku- Karya Devika Wulandari

  • Writer: RANI LARASSATI
    RANI LARASSATI
  • Dec 17, 2025
  • 2 min read

Jendela terbuka, angin sepoi-sepoi Desa Prambanan berbisik dan menyapu halus rambut panjangku. Aku selalu kagum kepada Ayahanda, Prabu Baka, karena ia disegani oleh semua orang. Memimpin sebuah kerajaan tentu bukan hal yang mudah. Keberaniannya, ketegasannya, serta wibawanya membuat seluruh rakyat menghormatinya.


Suatu hari, Ayahanda berkata, “Putriku yang cantik, Ayahanda akan melakukan penyerbuan menuju Kerajaan Pengging.” Menelusuri kerajaan lain adalah rutinitasnya dalam memperluas kekuasaan. Aku hanya bisa berharap agar Ayahanda kembali dengan selamat bersama Patih Kupala ke kerajaan. Jam demi jam berlalu, hingga tiba-tiba suara langkah kaki berlarian dan teriakan memenuhi gendang telingaku. Hatiku runtuh ketika Patih Kupala menusuk perasaanku dengan kalimat yang tak akan pernah kulupakan, “Putri Roro Jonggrang, Ayahanda tewas di tangan Raden Bandung Bondowoso.”


Mataku dipenuhi lautan air mata, tangisku membanjiri ruangan. Pemimpin Kerajaan Pengging itu telah merebut nyawa Ayahanda. Tak lama kemudian, kulihat ia berjalan memasuki kerajaan. Hatiku bercampur aduk oleh perasaan duka dan gelisah. Tanpa kusadari, orang yang membunuh Ayahanda kini berdiri tepat di hadapanku. Ia menatapku cukup lama, matanya berbinar-binar, seakan menyimpan maksud tersembunyi.


“Wahai putri cantik, siapakah gerangan dirimu?” tanya Raden.

“Aku adalah putri Prabu Baka, namaku Roro Jonggrang,” jawabku.


Kemudian Raden menyampaikan isi hatinya, “Wahai Roro Jonggrang nan jelita, maukah kau menjadi istriku?” Aku terkejut mendengar pinangan itu. Bagaimana mungkin aku menerima lamaran seseorang yang telah membunuh Ayahku sendiri? Hatiku berteriak, apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya?


Dengan berat hati, aku berkata, “Aku mau menikah denganmu, tetapi kamu harus memenuhi dua syarat.” Dua syarat yang kuajukan adalah membuatkan seribu buah candi dan dua buah sumur yang dalam. Semua itu harus selesai dalam satu malam. Dalam hatiku, aku yakin hal tersebut mustahil untuk diselesaikannya.


Namun, tanpa kuketahui, Raden meminta pertolongan ayahandanya dan mengerahkan balatentara roh halus untuk membantunya. Ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi, hanya tersisa lima buah candi yang belum selesai, dan kedua sumur hampir rampung. Tanganku bergetar ketakutan. Bayangan harus menerima pinangan Raden membuat dadaku sesak.


Akhirnya, aku membangunkan seluruh gadis Desa Prambanan dan memerintahkan mereka untuk menyalakan obor, membakar jerami, memukulkan alu ke lesung, serta menaburkan bunga-bunga harum. Saat rencanaku berjalan, suasana menjadi terang dan riuh. Cahaya memancar di langit seketika, ayam jantan pun berkokok bersahut-sahutan, mengira bahwa pagi telah tiba. Para roh halus ketakutan oleh cahaya serta kebisingan yang terjadi, dan segera meninggalkan pekerjaan mereka.


Dari kejauhan, kulihat satu buah candi belum sempat diselesaikan. Aku berharap Raden tidak menyadari perbuatanku, tetapi semuanya telah terlambat. Raden sangat terkejut dan marah ketika menyadari usahanya gagal karena ulahku sendiri, gadis yang ia inginkan.


Aku berlari menjauh, tetapi tiba-tiba tubuhku terasa kaku. Kulitku mengeras, berubah menjadi abu-abu, dan rasa sakit menjalar ke seluruh badanku. Bibirku tak lagi mampu berbicara. Aku dikutuk oleh Raden dan berubah menjadi sebuah arca terakhir untuk melengkapi seribu candi.


Meski telah menjadi batu, aku masih merasakan tangisan dan penyesalan Raden. Semoga ia bahagia, karena kini ia berhasil menguasai Desa Prambanan. Candi Sewu pun menjadi miliknya.

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Bima Linguistik

©2024 by Bima Linguistik. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page