top of page

Ayahku Luluh setelah Kehilangan?- Karya Gusti Ayu Putu Agung Mirah Kayla Diyanti

  • Writer: RANI LARASSATI
    RANI LARASSATI
  • Feb 4
  • 2 min read

Calon ratu? Putri tercantik? Gadis kuat? Apalagi? Mungkin sempurna? Aku Sang Ayu Ratih, mereka memanggilku Ratih. Terlahir sebagai putri satu-satunya dari Raja Amerta dari kerajaan Smerta yang terletak di tengah-tengah Nusantara, jelas aku sangat terkenal bahkan tak jarang ada pangeran dari berbagai penjuru yang ingin meminangku, tetapi mereka semua tidak memenuhi kriteria ayahku. “Cantik sekali putri Ayu Ratih, dia sangat beruntung pasti dia sangat dimanja oleh raja,” begitulah ujar warga yang setiap hari menyapaku di taman bunga, namun semua itu jauh dari kata benar. Aku memang bukan gadis cengeng yang sangat manja, aku sejak kecil menyukai seni perang, bahkan aku ingin sekali ikut turun ke medan peperangan suatu hari nanti, namun ayahku hanya ingin aku menjadi tuan putri yang anggun, dan hanya duduk santai di aula kerajaan.

Raja Amerta, ia adalah ayahku yang menjadi semakin kejam setelah kematian ibuku beberapa waktu lalu akibat perang melawan kerajaan Anodya dari pulau Sumatra, bahkan sejak saat itu ia tidak menyayangiku. Ayahku benar-benar membunuh semua prajurit yang gagal menyelamatkan nyawa ibu saat itu. Aku memang menyukai seni perang, tetapi aku tidak menyukai pertumpahan darah tanpa sebab.  Suatu pagi ayahku meraung-raung, aku pun menghampirinya, ternyata ia melihat ada banyak pangeran yang ingin meminangku, apa salahnya? Bukannya aku memang cantik?. 

“Apa yang bisa kalian pertaruhkan untuk putriku? Dia hanya menyukai seni perang, bahkan tidak tau cara menjadi perempuan yang sebenarnya!” Ayahku berseru kepada semua pangeran itu.

Biasanya aku tidak peduli, namun mataku terpincut pada seorang lelaki berkuda cokelat muda yang terlihat sangat santai, padahal ayahku sudah seperti raksasa kelaparan. "Raja! Aku adalah pangeran Nanda, putrimu akan baik-baik saja bersamaku, aku bersumpah demi harta dan keluargaku,” ujar pangeran yang memikat hatiku, hanya dia yang berani menjawab amarah Ayahku, hatiku semakin berdebar. Ayahku terkesima dan tidak melanjutkan perdebatan itu, sementara para pangeran dipersilakan istirahat di ruangan yang ayahku tentukan.

Malam harinya, pangeran Nanda menculikku dan membawaku ke tengah hutan, walaupun ia takut jika ayahku akan membunuhnya, namun ia nekat melakukannya. "Aku khawatir ayahmu akan mencarimu,” ujarnya, namun siapa aku? Ayahku sudah tidak pernah menyayangiku.

  Berhari-hari kita lalui bersama, bahkan banyak cerita yang sudah kami ukir, aku merasa yakin bahwa ia adalah jodohku, sembari tersenyum lebar, akupun memejamkan mataku dan mulai terlelap. Dorrr... Tiba-tiba suara ledakan muncul dimana-mana, aku mengerjap kebingungan mencari pangeran Nanda, "Pangeran!! Aku yakin disini ada penyusupp!! Ayo lari!!”

Namun pangeran Nanda tidak ada di sisinya. Saat aku panik, situasi semakin buruk, asap mengelilingiku, namun seseorang muncul disana, Pangeran Nanda dengan pasukannya tersenyum

menyeringai. Aku terkejut, mengapa ia melakukan ini? Bukankah ia mencintaiku? Seribu pertanyaan di kepalaku, namun aku tak sanggup mengucap apapun saat Pangeran Nanda mengambil pedangnya, aku tak mampu melawannya karena tak ada senjata di sekitarku. Aku pun berlari terengah-engah, menuju tepi hutan, disana aku lebih terkejut dengan kehadiran ayahku.

" Ratih bodoh, aku adalah Raja Anodya yang sakti dan perkasa! Aku lah yang membunuh ibumu.” Aku terkejut karena ia menunjukan wujud aslinya, anehnya mengapa ayahku justru tersenyum kearahku? Ternyata ia sudah membawa pasukannya yang dalam waktu sekejap sudah melenyapkan Raja Anodya, walaupun yang lenyap hanya badannya saja.

Raja Anodya memiliki kemampuan untuk hidup abadi tanpa terkecuali sehingga saat ini aku dan ayah harus lari sebelum ia hidup kembali. “Ayah…Apa ini?,” aku benar-benar bingung mengapa ia tidak mengenali Raja Anodya, bahkan tidak mencariku saat diculik.

 “Karena saat itu ia ingin membunuhmu, kau yang masih berusia 5 tahun ingin ikut berperang dan memancing musuh sehingga mereka mengarahkan pedang kearahmu, namun ibumu menyelamatkanmu sehingga ia yang tiada. Sejak saat itu aku sangat membencimu, namun setelah melihatmu ingin dipinang oleh banyak lelaki, aku tidak rela, aku ingin kau disini bersama ayahmu dan meneruskan tahta kerajaan tanpa meninggalkan ayahmu,” Ujar ayahku, hatiku teriris rasanya, aku baru mengetahui bahwa ibuku tiada karena aku.

“Raja Anodya menginginkan mu karena kau memiliki liontin kerajaan yang bisa menambah kesaktiannya, namun kau tenang saja, selama ayahmu disini kau akan baik-baik saja.”

Aku memang jauh dari ayahku, namun karena hal-hal kecil ayahku kembali menyayangiku tanpa pamrih.



 
 
 

Recent Posts

See All
1000 Candi Untukku- Karya Devika Wulandari

Jendela terbuka, angin sepoi-sepoi Desa Prambanan berbisik dan menyapu halus rambut panjangku. Aku selalu kagum kepada Ayahanda, Prabu Baka, karena ia disegani oleh semua orang. Memimpin sebuah keraja

 
 
 

Comments


Bima Linguistik

©2024 by Bima Linguistik. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page