Andi Sang Penyelamat - Karya I Putu Mahesa Rangga Sudibia
- RANI LARASSATI
- Apr 14, 2025
- 2 min read
Updated: Apr 25, 2025

Andi adalah orang yang sangat menyukai berkemah. Setiap bulannya, pasti saja dia sempat meluangkan waktu untuk berkemah. Seperti di Desember lalu, teman-teman Andi menghabiskan waktu bersama untuk merayakan tahun baru, berbeda dengan Andi yang malah menyendiri dan berkemah di suatu bukit. Contoh lainnya, pada Februari lalu Andi akhirnya memberanikan diri untuk kemah di Hutan untuk pertama kalinya. Pastinya, Andi pergi sendiri lagi. Andi memang dikenal sebagai orang yang suka menyendiri dan hanya mempunyai satu teman, Bima.
Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, bulan ini Andi tidak akan sendiri lagi. Oktober ini Andi akan pergi kemah bersama temannya, Bima. Mereka sudah menentukan waktu dan tempat untuk melakukan kemah spesial ini. Andi sangatlah bersemangat dan telah menyiapkan semua barang serta perlengkapan yang diperlukan dari jauh-jauh hari. Sedangkan Bima yang tidak pernah berkemah, belum menyiapkan apa-apa. Bima pun bertanya kepada Andi apa saja yang dia perlu bawa.
Andi pun menjawab, ”Gausah bawa banyak-banyak, kamu bawa perlengkapan untuk rakit tenda aja, buat masalah makanan dan lainnya udah aman di tangan aku”.
Bima yang bingung pun tambah bingung, karena dirinya tidak tau apa-apa mengenai perlengkapan untuk merakit tenda.
Hari kemah pun tiba, angin sore berhembus lembut saat Andi dan Bima tiba di area perkemahan. Udara segar pegunungan langsung menyambut mereka.
"Ini dia, spot sempurna untuk pasang tenda," kata Andi sambil memandang sekeliling, mencari tempat yang datar. Mereka sudah menempuh perjalanan panjang untuk bisa sampai ke tempat ini, dan Bima terlihat antusias, tapi juga agak cemas.
"Aku... sebenarnya belum pernah pasang tenda sendiri," Bima akhirnya mengaku dengan malu-malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Andi tersenyum. "Tenang, aku bakal bantu. Kita pakai langkah-langkah yang benar, biar tendanya kokoh dan nyaman."
Setelah menemukan tempat yang datar dan bebas dari batu atau benda tajam, Andi membuka tas tenda mereka. "Pertama, keluarkan semua komponen tenda dulu. Pastikan nggak ada yang ketinggalan," katanya, sambil mengeluarkan flysheet, inner tent, frame, dan pasak dari tas.
Bima mengikuti dengan cermat. "Oke, semua sudah ada."
"Bagus. Sekarang kita bentangkan alas tenda, atau groundsheet, biar bagian bawah tenda nggak lembap atau rusak," lanjut Andi sambil meratakan groundsheet di tanah.
Bima mulai merasa lebih tenang. Ia membantu Andi merakit tiang tenda (frame). "Ini gampang kok, tinggal sambung-sambung saja," ujar Andi.
Setelah tiang-tiang terhubung, Andi menginstruksikan, "Sekarang masukkan tiang-tiang ini ke dalam slot di kain tenda. Hati-hati, biar nggak salah pasang."
Bima sedikit kebingungan, tapi Andi sabar membimbingnya. Setelah beberapa menit, tenda sudah mulai berdiri tegak.
Fysheet berikutnya," Andi berkata sambil membentangkan flysheet di atas rangka tenda. "Ini buat melindungi dari hujan dan angin."
Keduanya bekerja sama, memastikan flysheet terpasang dengan baik dan kencang. Setelah itu, Andi mengambil pasak dan mulai menancapkannya di setiap sudut tenda, dibantu Bima yang memegang palu kecil.
"Jangan lupa kencangkan tali pengaman juga," tambah Andi. "Kalo ada angin, tenda nggak bakal terbang."
Setelah tenda berdiri kokoh, Bima tersenyum lebar. "Wah, ternyata nggak susah-susah amat, ya. Terima kasih, Di."
Andi tersenyum sambil menepuk bahunya. "Sama-sama. Pasang tenda itu mudah kalau kita ikuti prosedurnya dengan benar. Sekarang, tinggal masukin matras dan sleeping bag, terus kita bisa santai."
Malam pun tiba, dan di dalam tenda yang nyaman, Bima merasa lega dan bangga. Meskipun awalnya ragu, ia kini tahu cara mendirikan tenda yang benar, berkat bantuan Andi dan panduan yang jelas.

Comments