top of page

Aroma Hangat di Tengah Hujan- Karya Canada Aurelia Valentina Wardhana

  • Writer: RANI LARASSATI
    RANI LARASSATI
  • Apr 25, 2025
  • 1 min read

Hujan deras mengguyur atap rumah Dira, menciptakan suara gemericik yang konstan. Suasana sore itu begitu dingin, hingga uap tipis keluar dari mulut setiap kali mereka berbicara. Anya meringkuk di sofa ruang tamu Dira, menggigil sedikit meskipun sudah dibalut selimut tebal.


“Dingin banget, ya,” keluh Anya sambil memandangi jendela yang penuh titik air hujan.


“Iya, hujannya juga nggak berhenti-berhenti,” jawab Dira yang duduk di lantai, sibuk menata beberapa majalah di mejanya.


Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Anya. “Eh, Dira, gimana kalau kita buat lilin aromaterapi?”


Dira menatap Anya bingung. “Lilin aromaterapi? Buat apa?”


“Ya, biar lebih hangat aja. Selain itu, baunya enak dan bikin tenang, kan? Kita bisa pakai aroma kayu manis atau lavender,” kata Anya dengan semangat. “Suasananya jadi lebih nyaman deh, nggak cuma dingin dan suram begini.”


Dira tersenyum, menyadari bahwa ide Anya sebenarnya cukup bagus. “Boleh juga. Kebetulan di dapur aku masih punya bahan-bahan buat lilin sisa dari kerajinan bulan lalu.”


Mereka berdua segera menuju dapur, dan Dira mulai mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan: lilin parafin, pewarna, sumbu, dan beberapa minyak esensial yang sudah lama ia simpan. Anya memilih minyak esensial kayu manis, sambil membayangkan aroma hangat yang bakal memenuhi ruangan.


“Ayo, kita lelehkan lilinnya dulu,” ujar Dira sambil menyiapkan panci kecil di atas kompor.


Setelah lilin parafin meleleh, Dira menuangkan sedikit pewarna cokelat lembut ke dalam lilin cair itu, sementara Anya menambahkan beberapa tetes minyak esensial kayu manis. Aroma hangat segera memenuhi dapur mereka, membuat suasana menjadi lebih nyaman.


“Harumnya enak banget,” kata Anya sambil tersenyum puas. “Rasanya udah nggak terlalu dingin lagi.”


Dira menuangkan lilin cair ke dalam cetakan yang sudah disiapkan. “Sekarang kita tinggal nunggu lilinnya mengeras. Nggak lama kok.”


Mereka kembali ke ruang tamu, duduk di dekat jendela sambil mendengarkan hujan yang tak kunjung reda. Beberapa menit kemudian, lilin sudah mengeras sempurna. Dira menyalakan salah satu lilin, dan seketika aroma kayu manis yang hangat mengalir lembut ke seluruh ruangan, mengusir dingin yang tadi sempat menusuk.


“Wah, hangatnya bener-bener kerasa ya,” ujar Dira sambil merasakan nyala lilin yang temaram.


“Iya, aroma ini bikin tenang banget. Cocok banget buat suasana hujan kayak gini,” tambah Anya sambil tersenyum puas.


Dengan lilin aromaterapi yang menyala di meja, mereka berdua menikmati sore yang tadinya dingin menjadi lebih hangat, ditemani cahaya lilin yang lembut dan aroma kayu manis yang menenangkan.

 
 
 

Recent Posts

See All
1000 Candi Untukku- Karya Devika Wulandari

Jendela terbuka, angin sepoi-sepoi Desa Prambanan berbisik dan menyapu halus rambut panjangku. Aku selalu kagum kepada Ayahanda, Prabu Baka, karena ia disegani oleh semua orang. Memimpin sebuah keraja

 
 
 

Comments


Bima Linguistik

©2024 by Bima Linguistik. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page