Ben Ik Van Indonesisch Bloed - Rizkhy Rachmat Dharmawan
- RANI LARASSATI
- Apr 16, 2024
- 8 min read
Bangsa Indonesia telah cukup lama dijajah oleh bangsa asing, entah berapa lama waktu tentunya, dimulai dari Inggris, Portugis, Spanyol, Belanda, hingga Jepang. Namun, penjajahan Belanda adalah masa pendudukan terlama di Nusantara, kurang lebih 350 tahun lamanya yang konon apakah betul atau tidak.
Di masa pendudukan inilah, cukup banyak orang Belanda yang bermigrasi ke Nusantara untuk menguasai wilayah Nusantara, mulai dari berdagang, menguasai tanah, dan masih banyak lagi. Salah satu orang Belanda yang menginjakkan tanah di Nusantara adalah Daniel Van Danielsus, panggil saja Daniels, ia datang ke Nusantara pada tahun 1918 bersama Ayah dan Ibunya yang merupakan pegawai perkebunan di salah satu kebun kopi di Bogor.
Ayah Daniels merupakan seorang Belanda asli yang bernama Adreen sedangkan Ibu Daniels sendiri adalah orang Nusantara yang bernama Herleen dan berasal dari Sulawesi. Sejak kecil, Daniel tinggal di daerah pegunungan West Java, karena pekerjaan Ayahnya merupakan pegawai kebun kopi maka ia memiliki banyak sekali teman Nusantara yang merupakan anak dari budak perkebunan kopi itu. Ayah dari 1 orang anak itu merupakan seorang yang cukup pintar, namun ia sangat jarang memiliki waktu di rumah karena harus mengurus perkebunan kopi, maka Herleen pun yang mengambil tanggung jawab untuk mengurus Daniels.
Masa kecil ia pun dimulai, karena orang tuanya memiliki “status” yang cukup kuat di masyarakat ia mendapatkan sekolah dasar khusus pemerintahan Belanda atau Europeesche Lagere School yang terdiri dari anak-anak bupati dan kolonial. Disinilah ia memulai pendidikan dasarnya. Sekelas dengan orang-orang Belanda setiap hari belajar membuatnya paham akan sikap orang-orang Belanda sendiri, mereka sangat mendiskriminasikan orang-orang yang berbeda dengannya, bahkan tidak jarang mereka mendiskriminasi orang Belanda yang berbeda pendapat dengannya.
Disinilah kisahku sebagai seorang anak keturunan dimulai, aku disekolahkan oleh ibuku dan memulai sekolah dasarku pada umur-umur awal di sekolah Europeesche Lagere School atau bisa dibilang sekolah dasar khusus kolonial Belanda. Disinilah aku bertemu mereka yang merupakan orang-orang Belanda asli dan anak-anak bupati, akupun menjalin perteman dengan mereka.
Namun, tidak seperti sekolah pada umumnya, disini seperti ada yang bermasalah, yaitu adalah pembagian sosial yang tidak manusiawi. Disini aku bersekolah layaknya memiliki 2 mata, yaitu mata kolonial yang lebih tinggi dan mata pribumi yang dianggap lebih di bawah. Tak jarang juga aku yang masih memiliki darah Nusantara pun didiskriminasi meskipun aku bisa berbahasa belanda. Aku pun merasa sangat bingung mengapa ini bisa terjadi, apakah sejahat itu seorang manusia kepada manusia lainnya.
Waktu demi waktu pun berlalu, aku beranjak ke masa remaja dan Ibuku menyekolahkanku di sekolah menengah Belanda, biasa disebut pada masa itu adalah HBS atau Hogere Burgerschool. Di sini aku diajari tentang pikiran yang lebih terbuka tentang kehidupan sosial masyarakat saat itu.
Setelah aku mengalami cukup diskriminasi oleh teman-teman Belanda, aku pun mencoba untuk berteman dengan teman yang berasal dari pribumi. Awalnya aku merasa sedikit ragu apakah aku akan diterima atau tidak, tapi ternyata setelah aku mencoba berteman mereka, sangat mengejutkan ternyata aku diterima sebagai teman oleh mereka dengan sangat mudah. Mereka menerimaku dengan sangat baik sebagai teman tanpa melihat aku keturunan dari mana.
Suatu hari, pada mata pelajaran sosial di sekolahku, seorang teman bangkuku yang merupakan orang pribumi bertanya kepada guru sosial yang merupakan orang Belanda asli, saat itu diskusi tentang topik sosial sedang mencapai puncaknya. ”Leraar, waarom krijgen wij, als inheemse bevolking van Nederlands-Indië, niet dezelfde rechten als onze Nederlandse vrienden?” yang berarti ”Bu guru, kenapa kami sebagai penduduk asli Hindia Belanda tidak diberikan hak yang sama seperti teman-teman Belanda?”
Setelah beberapa saat, kelas pun menjadi hening. Sontak salah satu teman kolonial Belandaku pun menjawab dengan lantang ”Het antwoord is duidelijk, want wij als Nederlanders zijn veel beter en verdienen meer dan jij, onze huid is blank en we zijn rijker. Wij beheren uw land al ongeveer 50 jaar. Je verdient niet dezelfde rechten.” Yang berarti “Jawabannya jelas, karena kami sebagai orang belanda jauh lebih baik dan lebih pantas daripada kalian, kulit kami putih dan kami lebih kaya. Kami telah menguasai tanah kalian selama kurang lebih 50 tahun. Kalian tidak pantas mendapatkan hak yang sama.”
Setelah jawaban itu, temanku yang seorang pribumi pun menunjukkan raut wajah yang tidak baik dan langsung melabrak teman kolonial belanda itu seraya mencekik dan berkata dengan lantang.
”Hé buitenlandse wezens, luister naar wat ik zei, jullie blanke mensen horen niet thuis in ons glorieuze land, jullie hebben onze rechten en eigendommen weggenomen en naar Europa gebracht, wij Nederlands-Indië kunnen jullie afslachten omdat we talrijker zijn dan jullie.” Yang berarti “Hai makhluk asing, dengarkan apa yang saya katakan, kalian orang kulit putih tidak pantas berada di negara kami yang mulia, kalian merampas hak dan harta benda kami dan membawanya ke Eropa, kami Hindia Belanda dapat membantai kalian karena jumlah kami melebihi kalian.”
Dibalaslah perkataan teman pribumi ku dengan kata ”aap” yang berarti monyet dan membuat teman-teman pribumiku yang lain merasa tersinggung dan kemudian terjadilah perkelahian hebat di kelas antara teman kolonial dengan teman pribumi. Aku yang merasa seorang campuran beserta guru dikelas pun membantu meleraikan kedua kelompok ini agar tidak terjadi sesuatu yang lebih besar, kemudian datanglah polisi kolonial untuk meleraikan kedua kelompok ini.
Aku pun kembali kerumah setelah peristiwa itu, kali ini aku tidak melewati jalan setapak yang biasa aku lewati, tetapi aku melewati pasar rakyat yang jarang aku lewati. Disini aku melihat hal yang sangat mirip seperti yang terjadi di sekolahku, mulai dari pemisahan sosial antara si pribumi dan si kolonial, penindasan, penghinaan, dan masih banyak lagi, hanya saja bedanya adalah disini si tertindas tidak melawan. Aku kembali berpikir mengapa ini terjadi lagi.
Sampailah aku dirumah Kebun Kopiku, melewati kebun kopi yang diurus oleh kedua orang tuaku dengan baik. Ketika aku memasuki pintu rumah terdengar suara sayup-sayup teriakan dari belakang rumah, ternyata ayahku sedang memarahi Ibuku, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lantas akupun bertanya pada ibu ”Bu, mengapa dengan ayah?” Ibuku menjawab ”Tak ada anakku, hanya masalah kecil, biarkan ayahmu terlebih dahulu ya, segeralah mengganti busanamu dan nikmati kopi dari kebun ini bersama Ibu.” Aku pun berpikir mengapa ayahku memarahi ibuku yang terkenal sangat baik kepada banyak orang.
Waktu demi waktu pun berlalu, aku memasuki masa remaja, disinilah aku bertemu lebih banyak teman lagi di Sekolah Menengah Belanda. Namun, perhatian ku tertuju pada satu gadis Jawa, rambutnya lurus, senyumnya manis, kulitnya sawo matang, berpostur sedang, entah mengapa aku sangat tertarik pada gadis ini. Lantas, aku pun mulai mencari tahu seluk beluk tentang gadis ini.
Akhirnya, aku dan teman sebangku sekolahku pun mencoba untuk mengikuti gadis ini setelah pulang sekolah. Diskusi singkat pun terjadi.
”Hey Arjo,” aku berkata, “coba kau lihat gadis itu.”
Arjo bertanya, ”Yang mana? Di sini gadis banyak.”
”Gadis yang duduk paling depan dengan kulit sawo matang, rambut lurus, dan berpostur sedang itu.”
“Oh, yang itu,” Arjo berkata, sambil menaikkan alis kanannya. “Boleh juga, ia cukup cantik dan aku pikir cocok juga dengan seleramu.”
Kami pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti perempuan itu. Setelah kami membuntutinya hingga sore hari, akhirnya kami mengetahui ternyata ia merupakan keturunan Maluku-Jawa. Aku pun memberanikan diri untuk berkenalan dengan dirinya, singkatnya namanya adalah Erlisa Manise.
Aku mulai menjalin hubungan pertemanan dengan dirinya dan mulai mengenal banyak hal tentang dirinya, ternyata aku dan Erlisa memiliki hobi yang sama, kami sama-sama suka membaca buku yang bertemakan sosial, ini membuat kami sering bertemu dan bertukar pikiran. Entah mengapa aku merasakan jatuh cinta terhadap gadis ini.
Saat aku bertemu Ibuku, aku mencoba menceritakan hal ini kepada Ibuku, respon ibuku membuatku terkejut, ia mengatakan ”Menjalin hubungan tidak apa-apa, yang penting tidak memberatkan kamu saja ya Nak.” Akhirnya tanpa pikir lama, aku pun menjalin hubungan lebih dekat dengan Erlisa.
Cinta pun bersemi dari waktu ke waktu, kali ini Nusantara sedang memasuki masa genting ketika masyarakatnya lebih bergejolak dan berani untuk melawan penjajahan setelah adanya Gerakan Nasionalisme Indonesia yang dimaktubkan dalam Sumpah Pemuda 1928. Bentrokan antara pejuang dan koloni Belanda pun semakin marak, bahkan tidak jarang pribumi melawan pemaksaan dari adanya pengusaha Belanda, tidak terkecuali keluarga Daniels.
Hari ini aku mendengar kabar bahwa pekerja-pekerja pribumi melakukan mogok kerja diseluruh kabupaten, termasuk kebun kopiku, pada saat itu juga ratusan pekerja kebun kopi milik keluargaku mendatangi rumahku sambil membawa cangkul dan arit sembari membawa bendera merah serta berteriak ”Mana tuan tanah?! Mana tuan tanah?!” Ayahku dan Ibuku saat itu sedang bertengkar hebat dan Ayahku mengurung aku dan Ibuku di kamar rumah.
Aku mendengar sayup-sayup suara perdebatan sengit antara para pekerja dan Ayahku. Tiba-tiba terdengar letusan tembakan dari senapan api milik Ayahku dan kerusuhan hebat pun terjadi. Di antara kerusuhan itu, Aku dan Ibuku mencium bau asap sekaligus melihat asap menyelinap dari sela-sela pintu kamar. Akhirnya aku pun mendobrak jendela dan kabur melalui jendela ke hutan bersama Ibuku.
Kami pun melarikan diri ke rumah Paman Ibuku yang juga merupakan tuan tanah di daerah ini. Aku dan Ibuku menetap disini untuk sementara. Kemudian, aku segera menghampiri Erlisa untuk berbincang dengannya, aku cukup kaget ternyata ia sedang menatap jendela sembari meneteskan air matanya, aku pun bertanya kepadanya
”Manise, apa yang terjadi pada dikau?”
”Aku merenungkan mengapa banyak pertumpahan terjadi akhir-akhir ini? Apakah kami sebagai bangsa Indonesia akan merdeka? Apakah orang-orang Belanda yang bejat itu akan merampas hak kami lagi? Bukankah engkau seorang keturunan Belanda yang harus kembali ke tanah kelahiranmu?”
Aku merenungkan pertanyaan itu dan kemudian dengan lantang menjawab
”Manise, aku memang seorang keturunan Belanda, tapi Ben Ik Van Indonesische Bloeed adalah pegangan dalam jiwaku, aku sering bersama dengan Ibuku yang merupakan seorang pribumi dan aku merasakan bagaimana menderitanya seorang pribumi, terlebih lagi bagaimana menderitanya para pekerja di kebun kopiku. Manise, dulu aku bersekolah dan mereka memperlakukan teman-teman pribumi seperti hewan, mereka benar-benar membeda-bedakan manusia berdasarkan kasta, kulit, dan harta!” Setelah jawaban itu, aku pun meninggalkannya sendirian.
Ketika aku pulang ke rumah Paman, aku langsung mengatakan ke Ibuku ”Bu, izinkan aku menjadi orang Indonesia dan mencurahkan seluruh jiwa dan darahku untuk Indonesia!”
Ibuku mengatakan, ”Daniel, apakah kamu yakin akan pilihan itu? Apakah kamu tidak ingin bersekolah lebih tinggi?”
”Tidak Ibu, bangsa ini sedang memoles menuju kemerdekaan Ibu, kemerdekaan semakin dekat Ibu, hanya tinggal bagaimana kita mempertahankan kekuatan ini, izinkan aku Ibu.”
”Baiklah Ibu izinkan engkau, sekarang berjuanglah!”
”Baik Ibu.”
Aku pun meninggalkan rumah dan mengajak Erlisa segera pergi dari kabupaten ini. Di tengah perjalanan, kami dicegat oleh satu mobil jeep tertutup dengan berbendera Belanda. Seketika 4 prajurit Belanda mengerubungi kami dan mengarahkan moncong senjata mereka ke aku dan Erlisa. Mereka bertanya
”Kalian mau kemana?”
”Kami ingin melakukan perjalan ke Kabupaten Utara, kalian mau apa dari kami?”
”Kami mencurigai kalian akan berjuang dengan Pemberontak Indonesia di Kabupaten Utara”
”Tentu saja tidak, lihat pakaian kami, kami bukanlah seorang tentara, kami hanya rakyat biasa”
Tiba-tiba salah satu tentara memukulkan ujung senapanya di pipiku dan membuatku tersungkur.
”Apa maksudmu hey koloni?!”
Mereka semakin mendekatkan moncong senapan mereka ke kami dan tiba-tiba keluarlah seorang komandan yang tak terlihat mukanya dari dalam jeep tertutup itu. Ia menggunakan baret hijau dengan lencana biru, putih, dan merah di dadanya.
Tak disangka, setelah kuperhatikan ternyata ia adalah ayahku yang selama ini menyembunyikan identitas nya sebagai seorang tentara.
”Ayah, apa yang kau lakukan?”
”Borgol dia!!”
Para tentara itu mencoba untuk memaksa Erlisa masuk ke dalam jeep dan memukulnya. Itu membuat amarahku menjadi naik dan aku memukul tentara Belanda itu. Aku segera mengambil senapan miliknya dan mengarahkan ke seluruh tentara itu sembari melindungi Erlisa. Disaat itulah komandan tentara itu menyuruh para tentara untuk menembakku dari jarak yang tidak terlalu jauh.
”Dor, tang, tang, tang, tang, Dor, Dor”
Peluru tajam keluar dari moncong senjata penjajah itu dan menembus bagian depan tubuhku. Peluru keluar melalui belakang tubuhku, darah mengalir layaknya getah yang baru dipanen petani, aku pun tersungkur dengan penuh darah. Erlisa seketika menangis melihat kejadian itu dan memangku kepalaku di pangkuannya, aku menitipkan satu pesan terakhir kepada kekasihku itu ”Ben Ik Van Indonesische Bloed, Bahagia Indonesia Merdeka, Berjuanglah sampai mati”
Ayahku yang merupakan komandan tentara pun mengatakan ”Maafkan aku” kemudian pergi bersama tentaranya.

Comments