Cerita di Balik Pembuatan Batik Tulis- Kadek Benindya Kawaina Dharma Putri
- RANI LARASSATI
- Apr 25, 2025
- 2 min read

Di sebuah desa yang dikelilingi sawah hijau, tinggalah seorang gadis bernama Putri yang berumur 14 Tahun. Putri memiliki cita-cita untuk menjadi pembatik handal, mengikuti jejak neneknya yang terkenal dengan keindahan batiknya. Saat sore hari, Putri memutuskan untuk mencoba membuat batik tulis sendiri.
Dia mengumpulkan alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu selembar kain katun, lilin batik, canting, dan pewarna alami. Dengan semangat, Putri mulai mencuci kainnya, dan memastikan tidak ada kotoran yang tersisa. Setelah kainnya kering, dia mengambil pensil dan mulai menggambar motif bunga yang terinspirasi dari kebun dekat rumahnya. Putri dengan hati-hati melelehkan lilin batik. Dengan canting di tangan, dia mengoleskan lilin pada setiap garis gambar yang telah dibuatnya. Setiap goresan lilin mengingatkan Putri pada cerita-cerita neneknya tentang makna setiap motif batik. "Ini adalah warisan kita," ucap Putri dalam hati. Setelah selesai, dia merebus air dan melarutkan pewarna alami yang diambil dari daun. Dengan penuh harap, Putri mencelupkan kainnya ke dalam larutan pewarna. Warna biru yang cerah mulai menyebar di kain, membuat Putri merasa senang. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kain dan membilasnya dengan air dingin, dan mulai mengagumi betapa indahnya warna yang ada di kain batik nya sendiri.
Proses itu belum selesai. Putri kembali mengulang langkah-langkahnya, menambah lapisan lilin dan warna hingga kainnya penuh dengan corak yang kaya. Setiap kali canting menyentuh kain, Putri merasa semakin dekat dengan neneknya, mungkin dikarenakan efek ia rindu dengan neneknya, dan seolah neneknya menyemangatinya dari jauh. Ketika semua warna telah terapkan, Putri mulai menghilangkan lilin. Dia memanaskan kain di atas panci, menyaksikan lilin meleleh dan menghilang, meninggalkan jejak motif yang jelas. Dengan penuh rasa bangga, Putri mencuci kainnya dengan sabun dan menjemurnya di bawah sinar matahari. Saat kainnya kering, Putri memandang hasil karyanya. Di sana terhampar keindahan, warna, dan cerita. Batik tulis itu bukan hanya sekadar kain, melainkan jejak cinta dan warisan yang akan ia teruskan karena neneknya.
Putri tersenyum, mengetahui bahwa dia telah menciptakan batik hasil dari tangan ia sendiri. Dia telah menuliskan kisahnya di atas kain, melanjutkan tradisi yang sudah ada sejak lama. Dengan semangat baru, Putri siap untuk mengajarkan ilmunya kepada generasi berikutnya, menjadikan batik sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Comments