Layang-Layang Penuh Kenangan- Karya I Putu Krishna Wibawa Antara
- RANI LARASSATI
- Apr 16, 2025
- 2 min read

Di sebuah desa kecil yang selalu diterpa angin kencang, Adi duduk termenung, memandangi teman-temannya yang tengah asyik bermain layang-layang. Beragam bentuk layang-layang terbang tinggi di langit, ada yang berbentuk ketupat, segitiga, dan kotak. Adi kagum melihat layang-layang beraneka ragam itu melayang bebas. Namun, di tangannya hanya ada kertas kosong dan dua bilah bambu yang belum diolah.
Setelah beberapa menit berlalu, muncul ide di pikiran Adi untuk meminta kakeknya membuatkannya sebuah layang-layang. Dengan tekad yang bulat, Adi bergegas menuju rumah kakeknya. Sesampainya di sana, ia melihat kakeknya sedang menikmati secangkir kopi panas. Tanpa menunggu lebih lama, Adi segera menyampaikan keinginannya.
Kakeknya tersenyum melihat semangat cucunya. “Baiklah, mari kita buat layang-layang,” katanya dengan semangat.
Kakek Adi segera mengumpulkan alat dan bahan yang diperlukan, yaitu dua bilah bambu, kertas, lem, tali, dan gunting. “Pertama,” kata kakek sambil membelah bambu, “kita siapkan kerangka layang-layang.” Mereka mengambil dua bilah bambu satu dengan panjang 70 cm dan satu lagi 50 cm. Dengan fokus, Adi menandai titik tengahnya, dan bersama-sama mereka menyilangkan bambu-bambu itu hingga membentuk tanda ‘+’. Setelah itu, kakek meminta Adi untuk mengikat persilangan bambu tersebut dengan tali.
Langkah pertama selesai. Selanjutnya, kakek menyuruh Adi mengukur benang dari atas ke bawah dan dari sisi ke sisi untuk membentuk bingkai layang-layang. Langkah demi langkah mereka ikuti, hingga akhirnya kertas berhasil ditempelkan dengan rapi pada kerangka. Adi dengan hati-hati memotong kertas yang berlebih, melipatnya ke dalam agar menempel dengan
kuat pada bingkai.
Ekor layang-layangnya mana, Kek?” tanya Adi.
“Sabar, Adi,” jawab kakeknya sambil tersenyum. “Bantu kakek memotong kain ini sepanjang satu meter. Ini akan jadi ekor layang-layangmu.” Dengan hati-hati, mereka memotong dan menempelkan ekor tersebut.
Setelah semua selesai, Adi memasang benang pengendali dengan presisi. “Ini akan jadi layang-layang terbaik di desa ini,” ucapnya sambil menyelesaikan langkah terakhir.
“Layang-layangnya sudah jadi, Kek! Adi mau ke lapangan desa, terima kasih, Kek!” teriak Adi penuh semangat. Dengan rasa bangga, ia berlari menuju lapangan desa.
Angin bertiup kencang, memberikan tanda bahwa ini waktu yang tepat untuk menerbangkan layang-layang. Dengan hati-hati, Adi memegang tali pengendali dan mulai melepaskan layang-layangnya ke udara.
“Naik! Naik!” seru Adi penuh kegembiraan ketika layang-layang buatannya mulai mengudara. Ia tersenyum puas, melihat layang-layang itu terbang tinggi, bersaing dengan layang-layang teman-temannya yang lain.

Comments