top of page

Lemari Bersih, Pikiran Tenang- Karya Mallika Mahasadewi Putri Prasetyanto

  • Writer: RANI LARASSATI
    RANI LARASSATI
  • Apr 15, 2025
  • 2 min read

Updated: Apr 25, 2025




Sabtu adalah hari libur yang paling ku nanti. Hari penuh kemalasan di mana aku bisa sepenuhnya untuk berbaring diatas kasurku. Aku pun terbangun dan melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Mataku masih sembab, dan rambutku berantakan. Walaupun begitu, aku tak segera untuk mandi. Aku lebih memilih untuk mencari ponsel genggamku. Lalu berbaring lagi dikasur seperti posisi semula, ketika aku terbangun. Aku menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk bermain social media sembari bertukar pesan dengan temanku.


Kini bulan pun silih berganti, akan tetapi yang ku lakukan masih sama. Dibenakku melakukan hal yang tidak produktif di hari libur itu adalah hal yang wajar.

“Kak, beresin lemarinya.” Bunda berbicara dengan lugas.


Matanya membelalak melihat kearahku. Seolah-olah menantiku untuk segera keluar dari kamar. Aku menggerutu karena bunda sudah menginterupsiku yang sedang asyik bermain ponsel.


Kami adalah Bunda dan anak yang mempunyai sifat bertolak belakang. Bunda adalah orang yang tertata dan rapih, lihat saja meja kerja dan rak bukunya. Seperti tak ada satu debu yang menghinggapi sudut itu. Barang-barang pun tertata sebagaimana mestinya. Sungguh berbanding jauh denganku. Lemariku saja berantakan, dan barang entah berantah.


Bunda menghela napas panjang dan menatapku dengan senyum penuh pengertian. “Ayo, kita mulai dari yang mudah dulu,” Katanya sambil menarikku berdiri perlahan. Dengan setengah hati, aku membuka pintu lemari yang sesak.


Setelah satu per satu pakaian ditumpuk sesuai kategorinya, simpan, sumbang dan buang. Lemari mulai terlihat lebih lapang. Rasanya seperti beban berkurang, meskipun sebagian besar hanya berpindah ke lantai.

Bunda mengangkat kemeja tua favoritku yang sudah lusuh. “Ini juga mau disimpan?” Tanyanya, kali ini dengan tatapan yang sedikit mengingatkan. Aku ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. “Aku suka itu, Bunda. Banyak kenangannya.”


Dia tersenyum lembut. “Boleh, tapi pilih beberapa saja yang benar-benar berkesan. Sisanya bisa kita sumbangkan, setuju?”

Aku menarik napas dalam dan mengiyakan. Entah bagaimana, rasanya semakin ringan. Lemariku terasa rapi dan baru seperti semula.

 
 
 

Recent Posts

See All
1000 Candi Untukku- Karya Devika Wulandari

Jendela terbuka, angin sepoi-sepoi Desa Prambanan berbisik dan menyapu halus rambut panjangku. Aku selalu kagum kepada Ayahanda, Prabu Baka, karena ia disegani oleh semua orang. Memimpin sebuah keraja

 
 
 

Comments


Bima Linguistik

©2024 by Bima Linguistik. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page