Misteri Belajar Sang Kekasih Jenius- Karya Ni Putu Devika Wulandari
- RANI LARASSATI
- Apr 17, 2025
- 3 min read
Updated: Apr 25, 2025


Matahari menyinari wajah indah Dira. Dira sedang fokus mempelajari sesuatu. Dira duduk di kantin sekolah, menatap buku fisika kelas X Kartini yang terbuka di hadapannya. Suara riuh teman-temannya yang tertawa dan berbincang-bincang di sekelilingnya membuatnya sulit berkonsentrasi. Sudah hampir satu jam ia mencoba memahami Hukum Newton, tapi rasanya semakin sulit.
Pensilnya tergeletak tak berdaya di samping buku catatan yang kosong. Kepalanya terasa berat, dan ia mulai bosan.
“Kenapa materi ini susah banget?” keluh Dira, membiarkan dirinya bersandar di kursi. “Gerak lurus, hukum Newton, apalah itu... pusing pala barbie.”
Ia mendesah frustrasi. Dira merupakan siswi yang pintar, tapi kebiasaannya yang malas belajar sering membuatnya kesulitan. Ketika teman-temannya sibuk menyelesaikan soal-soal fisika, Dira lebih sering mencari alasan untuk mengobrol bersama teman sebangkunya. Di tengah rasa putus asanya, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Lano, kekasihnya yang selalu peringkat satu di kelas X Soekarno, muncul di layar.
"Gimana belajarnya, Dir? Udah siap buat ujian fisika besok?"
Dira mendengus pelan, menatap buku-buku berantakan di sekelilingnya. Jauh dari kata siap. Tak lama kemudian, Lano muncul di kantin, membawa sebuah kotak susu sebagai penyemangat untuk Dira dan senyum khasnya yang tenang. Dira hanya melirik sekilas, setengah berharap Lano bisa memberinya keajaiban agar langsung paham semua materi. Melihat Lano membawa kotak susu yang memiliki rasa coklat itu langsung membuat hatinya bergembira dan membuat matanya berbinar-binar. Namun, ia langsung teringat susahnya belajar untuk ujian fisika esok hari.
“Kamu kelihatan stres,” kata Lano sambil tertawa kecil. “Udah berapa jam di depan buku?”
Dira hanya mengangguk malas. “Aku udah baca Hukum Newton sampai lima kali, tapi tetep aja nggak ngerti.”
Lano duduk di sampingnya, menatap buku fisika Dira yang terbuka pada bab Hukum Newton. “Kamu itu sebenarnya pintar, Dir. Tapi belajar dengan cara baca terus-terusan kayak gini emang nggak cocok buat kamu.”
Dira mendongak, penasaran. “Terus harus gimana dong?”
Lano tersenyum. “Aku pakai Teknik Feynman. Coba aja deh, kamu pasti suka. Apalagi kamu suka ngobrol.”
Dira mengernyit, bingung. “Teknik apa tuh?”
Lano lalu menjelaskan bahwa Teknik Feynman adalah cara belajar dengan menjelaskan materi yang kita pelajari kepada orang lain, seperti mengajarkan anak kecil. Semakin sederhana kita menjelaskan, semakin kita mengerti. Sebagai seseorang yang suka bergaul dan berbicara, Dira merasa ini bisa jadi solusi.
“Nah, sekarang coba kamu jelasin hukum Newton yang pertama ke aku,” kata Lano sambil tersenyum. “Bayangin aku anak kecil yang nggak ngerti apa-apa.”
Awalnya Dira ragu, tapi ia mulai bicara perlahan. “Hukum Newton pertama itu… intinya kalau nggak ada gaya yang bekerja pada suatu benda, dia bakal tetap diam atau bergerak lurus terus, gitu kan?”
“Iyaa betul, pintar sekali Dira” jawab Lano. “Sekarang coba lebih sederhana lagi.”
Dira berpikir sejenak, lalu melanjutkan. “Jadi kayak bola di lantai. Kalau kita nggak dorong atau tendang, bola itu bakal diem aja. Tapi kalau kita tendang, dia bakal jalan terus sampai kena sesuatu yang berhentiin dia.”
Lano tersenyum puas. “Nah, itu ngerti. Gampang, kan?”
Dira tertawa kecil, terkejut betapa mudahnya ketika dijelaskan dengan cara sederhana. Selama ini, ia terlalu fokus menghafal definisi buku tanpa benar-benar paham. Teknik ini terasa lebih sesuai dengan gaya belajarnya, interaktif dan berbasis komunikasi. Sejak saat itu, Dira dan Lano sering belajar bersama di kantin, menggunakan Teknik Feynman untuk membahas materi-materi pelajaran. Tidak lagi sekadar menghafal, tapi benar-benar mengerti dan bisa menjelaskan dengan mudah.
Dira yang dulunya malas belajar, kini mulai menikmati setiap sesi belajar mereka, terutama karena ia bisa belajar sambil mengobrol dan berdiskusi dengan Lano. Ujian fisika berikutnya membawa hasil yang tak terduga. Dira berhasil mendapatkan nilai di atas rata-rata, dan meskipun Lano masih berada di peringkat pertama, Dira tidak lagi jauh di belakangnya. Kini, ia lebih percaya diri, tahu bahwa dengan metode yang tepat, belajar bisa jadi menyenangkan dan jauh dari stres.

Comments