top of page

Rahasia Di Balik Lensa- Karya Syafa Anita

  • Writer: RANI LARASSATI
    RANI LARASSATI
  • Apr 25, 2025
  • 3 min read

Di sebuah sekolah yang terletak di pinggiran kota, ada sebuah laboratorium sains yang selalu menyimpan berbagai kejutan. Di sinilah para siswa sering berkumpul untuk melakukan eksperimen menarik. Namun, alat yang paling sering menarik perhatian mereka adalah mikroskop. Mikroskop di laboratorium itu bukan sembarang mikroskop. Di balik lensa kaca yang kecil, dunia yang tak terlihat oleh mata telanjang melebar dengan segala keindahannya, mulai dari sel-sel tanaman, bakteri, hingga jaringan hewan. Tetapi, tidak semua siswa bisa langsung menggunakan mikroskop ini. Ada aturan ketat yang harus diikuti, dan kisah ini dimulai pada hari ketika Andi seorang siswa kelas 8 yang selalu penasaran. Akhirnya dia mendapatkan kesempatan menggunakan mikroskop tersebut.


 Saat Andi memasuki laboratorium bersama teman-temannya di sana terdapat Pak Budi yaitu guru sains mereka yang berdiri di depan kelas dengan senyum ramah. Di tangan Pak Budi, ada selembar kertas berisi peraturan penting. Andi mengira peraturan itu tidak akan berbeda dengan peraturan lab lainnya  seperti jangan lari, jangan bicara terlalu keras, dan jangan makan di dalam lab. Namun, ternyata itu peraturan mikroskop lebih spesifik dan cukup menarik. Pak Budi menjelaskan, “Sebelum kita mulai praktik, ada beberapa peraturan penting yang harus kalian patuhi untuk menggunakan mikroskop dengan benar”. Andi mendengarkan dengan seksama tidak sabar untuk melihat apa yang tersembunyi di balik lensa kaca itu. Pak Budi melanjutkan, “pertama, kalian harus selalu membersihkan lensa dengan kain khusus yang ada di kotak alat. Jangan pernah menggunakan tangan atau kain lain, karena debu dan minyak dari tangan bisa merusak lensa.


”Andi mengangguk, meski dalam hati bertanya-tanya seberapa besar kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh sedikit debu. Namun, ia tidak ingin melanggar aturan di depan Pak Budi.“Kedua, selalu mulai dengan pembesaran rendah dulu. Jangan langsung loncat ke pembesaran tinggi, karena kalian bisa melewatkan detail penting dan bahkan merusak preparat.” Satu hal yang Andi perhatikan adalah betapa hati-hatinya Pak Budi saat berbicara tentang mikroskop, seolah-olah alat itu seperti sebuah jendela rahasia ke dunia lain yang sangat rapuh. “Dan ketiga, kata Pak Budi sambil memandang tajam ke seluruh kelas, “jangan pernah memutar kenop fokus denga kasar saat kalian sudah menggunakan lensa dengan pembesaran tinggi. Ini bisa menyebabkan lensa menabrak kaca preparat dan merusaknya.


Kemudian beberapa siswa mengangguk pelan, tapi Andi merasa peraturan ini seperti teka-teki yang menantang. Bagaimana mungkin satu kenop saja bisa menyebabkan masalah besar? Setelah menjelaskan semua aturan, Pak Budi akhirnya memperbolehkan  mereka menggunakan mikroskop. Andi dan teman-temannya langsung berebut menuju meja-meja yang sudah disiapkan. Dengan hati-hati, Andi membersihkan lensa seperti yang diajarkan. Andi lalu meletakkan preparat daun tipis di atas meja preparat, lalu memulai dengan lensa pembesaran rendah seperti yang diinstruksikan. Saat ia memutar kenop fokus halus, perlahan-lahan jaringan daun itu terlihat semakin jelas. Ia terpesona melihat sel-sel kecil yang membentuk pola seperti mosaik rumit. "Luar biasa," kata Andi. Tapi rasa penasaran Andi tak berhenti di situ.


Ia ingin melihat lebih dekat. Dengan gemetar, ia mengganti lensa pembesaran tinggi dan mulai memutar kenop fokus dengan kasar dan dia melupakan peringatan Pak Budi.“Takk!” Terdengar bunyi kecil saat lensa menabrak kaca preparat. Andi terkejut, langsung mundur sedikit. Ia melihat kaca preparatnya retak, dan sebagian besar sel-sel yang tadi terlihat begitu indah kini kabur. Pak Budi mendekat dengan tenang, tanpa marah. “Andi, kamu ingat peraturan ketiga tadi, kan?” katanya sambil tersenyum lembut. Andi mengangguk pelan, merasa sedikit bersalah. Mikroskop adalah alat yang sangat berharga untuk melihat dunia yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang. Tapi kalau kita tidak hati-hati, kita bisa merusak kesempatan itu dan sama seperti dalam hidup, kadang kita harus memulai dari yang kecil dan hati-hati sebelum melangkah lebih jauh.”Andi mengangguk lagi, kali ini dengan lebih banyak pemahaman. Ia tahu peraturan-peraturan itu bukan sekadar aturan kosong, tetapi panduan untuk menjaga keajaiban di balik lensa mikroskop. Sejak hari itu  Andi selalu lebih hati-hati saat menggunakan mikroskop dan setiap kali ia melihat ke dalam lensa, ia teringat pesan Pak Budi bahwa hal-hal kecil bisa menyimpan keindahan besar, asalkan kita sabar dan penuh perhatian.


 
 
 

Recent Posts

See All
1000 Candi Untukku- Karya Devika Wulandari

Jendela terbuka, angin sepoi-sepoi Desa Prambanan berbisik dan menyapu halus rambut panjangku. Aku selalu kagum kepada Ayahanda, Prabu Baka, karena ia disegani oleh semua orang. Memimpin sebuah keraja

 
 
 

Comments


Bima Linguistik

©2024 by Bima Linguistik. Dibuat dengan Wix.com

bottom of page